Senin, 16 Desember 2019

Program Survey Mawas Diri


Analisis Optimalisasi Penerapan Siklus Perencanaan Promosi Kesehatan Pada Program  Sumber Mawas Diri Di Salah Satu Puskesmas Kota Kendari
            Untuk dapat menganalisis program promkes mawas diri di salah satu puskesmas kota kendari  kami mengadakan  observasi  di puskesmas tersebut pada tanggal 28 November 2019 dimana tujuan kami mengadakan observasi tersebut adalah untuk mengetahui apakah dalam proses perencanaan progrma promkes khusunya program mawas diri.
            Mawas diri merupakan cara yang memungkinkan seseorang untuk memahami diri sendiri termasuk kemampuan dan kelemahan diri sendiri. Melalui pemahaman diri ini seseorang akan mempraktekan strategi mulur mungkret dalam menentukan saat yang tepat kapan harus menuruti atau meningkatkan keinginannya (muhur) dan kapan harus bersikap menurunkan keinginannya (mungkret) agar lebih mudah dicapai (Psikologi & Surakarta, 2010).
            Program mawas diri adalah suatu program yang dicanangkan untuk memiliah rasa sendiri dengan rasa orang lain dimana keberhasilan dalam keberhasilan dalam program ini akan dapat membawa seseorang pada rasa bahagia. Mawas diri dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang menentukan pilihan untuk mengikuti catatan yang berarti lebih emosional akan menghasilkan kramadangsa yang didominasi afek negatif (karep), sedangkan pilihan untuk tidak mengikuti catatan lebih bersifat rasional dan didominasi afek positif sehingga bersifat altruistic. Oleh karena itu, kebahagiaan dapat diraih apabila seseorang mampu memosisikan dirinya sendiri secara mandiri dan terbebas dari karep. Seseorang akan merasa bahagia apabila mampu menghayati perasaan bahagia yang dirasakan oleh orang lain (Psikologi & Surakarta, 2010).
            Dalam siklus perencanaan promosi kesehatan hal yang pertama kali dilakukan adalah menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah mayarakat dan wilayahnya. Dalam program mawas diri di puskesmas x telah melakukanya dengan menggunakan metode observasi dimana masalah diketahui dan disampaikan oleh kader-kader desa sendiri kepada petugas. Pada program ini petugas kesehatan hanya mengandalkan hasil laporan dari para kader-kader desa sebagai informasi dalam pelaksanaan program mawas diri ini yang merupakan  program baru pemerintah. Mengapa demikian karena para kaderlah yang mengetahui sifat dan kebiasaan masyarakatnya dibandingkan dengan para petugas kesehatan.
            Setelah pelaporan hasil kuisioner petugas kesehatan di Puskesmas X melakukan identifikasi masalah dan penentuan prioritas masalah dengan mengdakan pertemuan sebanyak 4 kali. Hal ini bertujuan agar penyebab masalah dapat ditemukan serta dapat menentukan prioritas masalah di daerah Puskesmas X. Menurut kami penentuan identifikasi masalah dan prioritas masalah di Puskesmas X menggunakan metode scoring. Dimana metode scoring adalah metode yang memberikan. Penentuan prioritas masalah adalah metode sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan pelayanan kesehatan.   
            Dalam program mawas diri ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Puskesmas X. Sebagai program yang baru di laksanakan program mawas diri ini mempunyai tujuan yang sangat besar yaitu ingin meningkatkan derjat kesehatan. Dalam penentuan tujuan ini perlu dilakukan agar semua program dapat terlaksana secara optimal dan terarah karena telah menantukan tujuan programnya. Jadi ada cita-cita yang ingin dicapai oleh program mawas diri ini dalam pelaksanaannya.
             Setelah menentukan tujuan program petugas kesehatan menentukan sasaran. Dalam penentuan program sangatlah penting untuk menentukan sasaran agar program dapat tersampaikan dengan baik dan dapat mencapai tujuan program mawas diri dengan baik dan optimal. Pada Puskesmas X sasaran dalam program mawas diri ini adalah para pesera JKN yang terdaftar di Puskesmas tersebut.
            Menentukan jenis kegiatan program mawas diri. Penentuan jenis kegiatan dalam program mawas diri ini disarkan pada hasil analisis data dengan menggunakan metode penyuluhan mulai dari turun langsung ke masyarakat atau dengan menyuluh menggunakan metode komunikasi satu arah yaitu komunikasi dari komunikator ke komunikan secara langsung tanpa adanya perantara.
            Setelah penentuan jenis kegiatan petugas kesehatan menentukan metode yang mereka gunakan dimana metode yang mereka gunakan yaitu menggunakan 2 metode yaitu observasi dan dengan menggunakan metode kuisioner PIS-PK. Dengan penentuan derajat kesehatan yaitu merah.hijau, kuning. Tetapi warna-warna ini tidak menentukan derajat kesehatan masyarakat secara pasti dikarenakan memang masyarakat sudah dikatakan sehat jika jamban, tempat sampah, dan sumber airnya tetapi jika masih ada perokok di dalam rumah maka itu tidak bisa dikatakan derajat kesehatanya meningkat.
            Dalam program mawas diri ini proses  penyampaian informasi atau promosi tentang program mawas diri ini dengan menggunakan media leaflet. Mengapa demikian karena laeflet muda di bawa kemana-mana dan bisa dibawa pulang kerumah untuk dibaca oleh keluarganya.
            Program mawas diri yang telah dilaksanakan di Puskesmas tersebut bisa dikatakan berhasil karena telah memenuhi syarat dari acuan program ini yaitu SPM yang meruapak acuan yang diberikan dari dinas kesehatan. Dalam SPM syaratnya harus memenuhi nilai 100%.

Referensi:
Projectlibre, A., Puskesmas, D. I., & Kendari, B. K. (2017). Analisis program pemecahan masalah penyakit hipertensi menggunakan aplikasi projectlibre di puskesmas benu-benua kota kendari tahun 2017. 2(6), 1–7.
Psikologi, F., & Surakarta, U. M. (2010). Konsep mawas diri suryomentaram dengan regulasi emosi. 13(1), 16–29.
Sulaeman, E. S., Murti, B., & Kunci, K. (2015). Aplikasi Model Pada Perencanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Berbasis Penilaian Kebutuhan Kesehatan Masyarakat The Application of PRECEDE-PROCEED Model in Community Empowerment Planning in Health Sector Based on the Need Assessment of Public Health. 23(3), 149–164.
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar