Analisis Optimalisasi Penerapan Siklus
Perencanaan Promosi Kesehatan Pada Program Sumber Mawas Diri Di Salah Satu Puskesmas Kota
Kendari
Untuk
dapat menganalisis program promkes mawas diri di salah satu puskesmas kota
kendari kami mengadakan observasi
di puskesmas tersebut pada tanggal 28 November 2019 dimana tujuan kami
mengadakan observasi tersebut adalah untuk mengetahui apakah dalam proses
perencanaan progrma promkes khusunya program mawas diri.
Mawas diri merupakan cara yang
memungkinkan seseorang untuk memahami diri sendiri termasuk kemampuan dan
kelemahan diri sendiri. Melalui pemahaman diri ini seseorang akan mempraktekan
strategi mulur mungkret dalam menentukan saat yang tepat kapan harus menuruti
atau meningkatkan keinginannya (muhur) dan kapan harus bersikap menurunkan
keinginannya (mungkret) agar lebih mudah dicapai (Psikologi & Surakarta, 2010).
Program mawas diri adalah suatu
program yang dicanangkan untuk memiliah rasa sendiri dengan rasa orang lain
dimana keberhasilan dalam keberhasilan dalam program ini akan dapat membawa
seseorang pada rasa bahagia. Mawas diri dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang
menentukan pilihan untuk mengikuti catatan yang berarti lebih emosional akan
menghasilkan kramadangsa yang
didominasi afek negatif (karep),
sedangkan pilihan untuk tidak mengikuti catatan lebih bersifat rasional dan
didominasi afek positif sehingga bersifat altruistic.
Oleh karena itu, kebahagiaan dapat diraih apabila seseorang mampu
memosisikan dirinya sendiri secara mandiri dan terbebas dari karep. Seseorang akan merasa bahagia
apabila mampu menghayati perasaan bahagia yang dirasakan oleh orang lain (Psikologi & Surakarta, 2010).
Dalam siklus perencanaan promosi
kesehatan hal yang pertama kali dilakukan adalah menganalisa situasi, mengidentifikasi
masalah mayarakat dan wilayahnya. Dalam program mawas diri di puskesmas x telah
melakukanya dengan menggunakan metode observasi dimana masalah diketahui dan
disampaikan oleh kader-kader desa sendiri kepada petugas. Pada program ini petugas
kesehatan hanya mengandalkan hasil laporan dari para kader-kader desa sebagai
informasi dalam pelaksanaan program mawas diri ini yang merupakan program baru pemerintah. Mengapa demikian
karena para kaderlah yang mengetahui sifat dan kebiasaan masyarakatnya
dibandingkan dengan para petugas kesehatan.
Setelah pelaporan hasil kuisioner
petugas kesehatan di Puskesmas X melakukan identifikasi masalah dan penentuan
prioritas masalah dengan mengdakan pertemuan sebanyak 4 kali. Hal ini bertujuan
agar penyebab masalah dapat ditemukan serta dapat menentukan prioritas masalah
di daerah Puskesmas X. Menurut kami penentuan identifikasi masalah dan
prioritas masalah di Puskesmas X menggunakan metode scoring. Dimana metode scoring
adalah metode yang memberikan. Penentuan prioritas masalah adalah metode
sistematis untuk mengidentifikasi kebutuhan kesehatan dan pelayanan kesehatan.
Dalam program mawas diri ini
bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Puskesmas X.
Sebagai program yang baru di laksanakan program mawas diri ini mempunyai tujuan
yang sangat besar yaitu ingin meningkatkan derjat kesehatan. Dalam penentuan
tujuan ini perlu dilakukan agar semua program dapat terlaksana secara optimal
dan terarah karena telah menantukan tujuan programnya. Jadi ada cita-cita yang
ingin dicapai oleh program mawas diri ini dalam pelaksanaannya.
Setelah menentukan tujuan program petugas
kesehatan menentukan sasaran. Dalam penentuan program sangatlah penting untuk
menentukan sasaran agar program dapat tersampaikan dengan baik dan dapat
mencapai tujuan program mawas diri dengan baik dan optimal. Pada Puskesmas X
sasaran dalam program mawas diri ini adalah para pesera JKN yang terdaftar di
Puskesmas tersebut.
Menentukan jenis kegiatan program
mawas diri. Penentuan jenis kegiatan dalam program mawas diri ini disarkan pada
hasil analisis data dengan menggunakan metode penyuluhan mulai dari turun
langsung ke masyarakat atau dengan menyuluh menggunakan metode komunikasi satu
arah yaitu komunikasi dari komunikator ke komunikan secara langsung tanpa
adanya perantara.
Setelah penentuan jenis kegiatan
petugas kesehatan menentukan metode yang mereka gunakan dimana metode yang
mereka gunakan yaitu menggunakan 2 metode yaitu observasi dan dengan
menggunakan metode kuisioner PIS-PK. Dengan penentuan derajat kesehatan yaitu
merah.hijau, kuning. Tetapi warna-warna ini tidak menentukan derajat kesehatan
masyarakat secara pasti dikarenakan memang masyarakat sudah dikatakan sehat
jika jamban, tempat sampah, dan sumber airnya tetapi jika masih ada perokok di
dalam rumah maka itu tidak bisa dikatakan derajat kesehatanya meningkat.
Dalam program mawas diri ini proses penyampaian informasi atau promosi tentang
program mawas diri ini dengan menggunakan media leaflet. Mengapa demikian
karena laeflet muda di bawa kemana-mana dan bisa dibawa pulang kerumah untuk
dibaca oleh keluarganya.
Program mawas diri yang telah
dilaksanakan di Puskesmas tersebut bisa dikatakan berhasil karena telah
memenuhi syarat dari acuan program ini yaitu SPM yang meruapak acuan yang
diberikan dari dinas kesehatan. Dalam SPM syaratnya harus memenuhi nilai 100%.
Referensi:
Projectlibre, A., Puskesmas, D. I., & Kendari, B.
K. (2017). Analisis program pemecahan masalah penyakit hipertensi
menggunakan aplikasi projectlibre di puskesmas benu-benua kota kendari tahun
2017. 2(6), 1–7.
Psikologi, F.,
& Surakarta, U. M. (2010). Konsep mawas diri suryomentaram dengan
regulasi emosi. 13(1), 16–29.
Sulaeman, E. S.,
Murti, B., & Kunci, K. (2015). Aplikasi Model Pada Perencanaan Program
Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Berbasis Penilaian Kebutuhan Kesehatan
Masyarakat The Application of PRECEDE-PROCEED Model in Community Empowerment
Planning in Health Sector Based on the Need Assessment of Public Health. 23(3),
149–164.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar